Gempita Gempita Grand Central Station Visitors Guide Gempita Gempita

Aku dan Pendidikan di Negeriku


Aku, manusia kecil yang ditempatkan tuhan di sebuah Negeri gemah ripah loh jinawi. Negeri yang kata nenek moyang tidak akan pernah habis kesuburan tanahnya, negeri yang kata nenek moyang akan sejahtera. Tapi itu semua hanya kata nenek moyang dan aku tidak lagi begitu mempercayai nenek moyangku. Sementara kataku, saat ini, negeri ini tengah jatuh sakit, kritis, parah dan hampir tak tertolong. Begitupun aku,sakit,bukan fisikku yang sakit,tapi batinku sakit. Melihat segala kesemrawutan negeri ini,segala kemunafikan,segala kemalasan,segala keluhan dan segala keserakahan oang orang disini. Aku hanya melihat segelintir sosok arjuna yang berwibawa dinegeri ini. Aku hanya tahu sedikit orang orang seperti semar di sini,orang yang sangat bijaksana dan menjadi panutan yang baik. Yang aku lihat hanyalah kurawa-kurawa dan para buta. Dengan keserekahanya, kemalasan dalam bekerja,keluh kesah dimana-mana. Yahh itulah yang aku lihat. Tapi aku tak akan membahas mereka disini. Aku akan bercerita tentang aku,tentang pandanganku terhadap negeriku. Negeri Endonesia.
Kata orang-orang di negeri ini,pendidikan itu hal yang sangat penting. Untuk membangun negeri,untuk membuat negeri ini sejahtera seperti kata nenek moyang. Aku mungkin setuju dengan itu. Orang orang hebat di negeri ini semua bersekolah, Soekarno,Hatta,Syahrir,semua bersekolah. Berarti untuk menjadi orang besar seperti mereka harus sekolah. Tapi saat ini aku melihat,pendidikan di negeriku sedang sakit parah. Baru baru ini Ujian Nasional jadi topik pembicaraan. Kalau aku lihat, ujian nasional itu justru merusak pendidikan di negeriku. Mungkin ilmu mereka akan terasah,tapi moral mereka juga banyak yang terkuras. Dimana-mana ada kebocoran soal dan jawaban,sebelum ujian mulai kunci jawaban sudah tersebar,saat mengerjakan soal saling contek mencontek, pengawasnya pun diam saja seolah menghalalkan yang mereka lakukan. Sebagian besar dari mereka hanya mengharapkan lulus. Ya hanya kata LULUS di amplop pengumumanya. Kejujuran yang seharusnya menjadi pondasi dalam berilmu hilang lenyap entah kemana,hanya segelintir siswa yang masih berpegang pada kejujuran. Tapi selebihnya telah lupa arti kata kejujuran, yang diharapkan hanyalah lulus dan nilai sempurna. Bukan ilmu bermanfa’at yang mereka harapkan,tapi kata LULUS. Jadi bukan suatu masalah bagaimana cara mereka mengerjakan soalnya. Toh pemerintahku orangnya hebat-hebat bisa membuat kamuflase negeriku seolah-olah pendidikanya sedang membaik,semua baik-baik saja. Seolah-olah semua anak-anaknya adalah anak bersekolah yang cerdas. Kemudian ada orang-orang ditelevisi berdebat ramai-ramai tentang masih perlukah Ujian Nasional atau tidak. Tapi aku tak bisa apa-apa. Ya aku hanya bisa DIAM.
Tiap pagi kecuali minggu anak-anak sekolah dinegeriku pergi kesekolah ,rapi, bersih, berseragam. Akupun sering berangkat bersama mereka semua untuk pergi kesekolah. Hanya saja pakaianku agak sedikit berbeda dengan mereka.kami pergi menuju Sebuah SMA di sudut kota. Tapi ada beberapa yang aneh dari mereka yang sering kulihat. Ketika bel masuk sudah berbunyi, masih banyak siswa yang baru berdatangan. Bahkan puluhan menit setelah bel masuk,masih banyak yang baru datang,tetapi mereka tetap santai,tidak ada yang terburu-buru atau takut terlambat seolah mereka setengah hati untuk menuntut ilmu di sekolah. Ketika guru sedang berada di dalam kelas,justru beberapa dari mereka sedang tiduran di ruang UKS sekolah sambil asyik bermain handphone. Ada juga yang jam pelajaran sedang berlangsung, mereka makan di kantin, bahkan ada yang pergi keluar lingkungan sekolah entah pergi kemana. Waktu ulangan,banyak dari mereka yang bawa kertas kecil di sakunya, atau juga aku pernah melihat mereka sedang menulisi meja mereka dengan materi yang akan diulangkan. Mungkin agar tidak lupa saat ulangan,atau mungkin itu bentuk kreativitas mereka. Ah entahlah..
Banyak sekali dari mereka yang mulai berlaku dan bertindak tidak sopan dengan guru mereka. Berbicara dengan para guru seolah berbicara dengan teman sebaya, tidak ada lagi unggah ungguh yang kata orang adalah keunggulan masyarakat jawa. Tapi ya buatku itu bukan masalah. Aku juga tidak punya hak untuk melarang mereka. Itu pilihan mereka sendiri. Aku hanya bisa melihat mereka dengan tatapanku sendiri. Aku hanya bisa DIAM.
Setiap hari mereka mendapat uang saku dari orangtuanya, kadang jika tidak mendapat uang saku, beberapa dari mereka enggan untuk pergi sekolah. Hanya karena uang saku?!. Beberapa anak SD juga sering enggan berangkat sekolah karena gagal mendapat tas,sepatu,atau perlengkapan sekolah yang baru yang mereka inginkin. Hanya karena itu mereka tidak mau bersekolah. Anak anak di SMA itu juga sempat membuat aku tak habis fikir, mengapa tega mereka bolos sekolah, malas-malasan di sekolah sementara orangtua mereka bersusah payah mencari uang untuk biaya sekolah mereka?. Ahh..aku lagi lagi hanya bisa DIAM.
Aku DIAM, bukan karena aku tak peduli, tapi karena aku sudah tidak percaya lagi dengan pendidikan di negeri ini,tepatnya aku tidak lagi percaya dengan orang orang yang mengurus pendidikan negeri ini., ya mereka para pemerintah,para pejabat negeri ini,bukan para guru.aku masih menghormati para guru. Pernah aku membaca di sebuah Koran bahwa “setiap warga negara berhak mendapat pendidikan yang layak.” Itu menurut undang-undang dasar. Dan menurutku itu hanya bualan mereka yang berkuasa saja. aku pernah menonton televisi katanya 20% APBN akan digunakan untuk pendidikan. Tapi aku tetap tidak percaya dengan yang disampaikan kotak besi itu. Semuanya seperti tipuan, dan memang tampak nyata untukku sebagai sebuah tipuan.
Ya, aku adalah aku, seorang remaja yang seharusnya sedang berada di sekolahan untuk belajar dan aku selalu mengharapkan untuk bisa berseragam seperti mereka. tetapi keadaanya aku seorang loper Koran. Setiap pagi harus aku antarkan Koran ke sebuah SMA di kota itu, setiap hari aku harus menahan beban dan hasrat untuk bisa berjalan bersama mereka untuk sekolah, tapi faktanya aku seorang miskin, seorang pengantar Koran dan aku bukan seorang siswa SMA itu. Aku berjalan bersama mereka setiap pagi untuk mengantar Koran!!
Aku tidak peduli bagaimana mereka mengerjakan soal Ujian Nasional, aku tidak peduli apakah UN akan dihapus atau tidak, toh aku tetap seperti ini dan tidak bisa bersekolah. Itu tidak akan berpengaruh apapun kepadaku. Aku juga tidak peduli apa yang dilakukan anak-anak tak punya hati yang berseragam di sekolah itu, aku tak peduli ketika mereka membolos, aku tak peduli dengan kemalasan mereka, aku tak peduli dengan ketidakseriusan mereka dalam sekolah, aku tidak peduli kepada mereka. Karena bagiku mereka adalah orang-orang berseragam yang tak memiliki hati nurani, yang setiap hari berjalan kesekolah bersamaku,aku yang seumuran dengan mereka tapi kami beda tujuan, mereka “seharusnya” belajar dan aku mengantar Koran. Mereka tahu aku ingin sekali sekolah tapi tak bisa karena aku miskin, tapi sikap mereka di sekolah justru sangat membuatku marah dan kecewa.
Walaupun aku seorang pengantar Koran, aku pun masih punya rasa hormat dan sopan terhadap guru, tidakkah mereka malu kepadaku? Mereka yang berlaku tidak sopan kepada guru? Untuk apa mereka pergi kesana jika hanya bermain-main dan mengecewakan orangtua! Biarkan aku yang berada disana!! Untuk belajar dengan tekun dan rajin, agar satu, aku bisa mengubah hidupku dan keluargaku menjadi lebih layak!! Sungguh aku sangat kecewa kepada mereka semua. Mereka yang membuang kesempatan untuk belajar sementara diluar gedung sekolah seperti itu di negeri ini, ada ratusan,ribuan anak-anak seusia mereka yang ingin sekali bersekolah.
Dan mereka disana yang mengaku sebagai pemerintah dan wakil rakyat, tidakkah kalian serius memperhatikan kami? Kami adalah orang yang harus kalian urus, yang diamanatkan oleh pendiri bangsa ini, apakah harus menjadi kaya dulu sebelum kami bisa bersekolah? Jangan hanya jadikan kami sebagai alat kekuasaan kalian! Kami butuh diperhatikan secara nyata!!